Sandiaga Bawakan Tema National Leadership Camp 2018

Sandiaga Bawakan Tema National Leadership Camp 2018 – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno jadi narasumber dalam seminar buat mahasiswa se-Indonesia bertopik National Leadership Camp 2018. Dalam sambutannya, dia menyinggung panasnya suhu politik mendekati Pemilihan presiden 2019.

National Leadership Camp 2018 diselenggarakan di Auditorium PPPPTK Bhs, Jl Gardu, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/7/2018). Wali Kota Jakarta Selatan, Marullah Matali, ada dalam acara ini.

” Saya membawa Wali Kota Jakarta Selatan ustaz haji Marullah Matali. Umumnya profesinya wali kota tetapi sampingannya ustaz. Ini ustaz yang sampingannya wali kota. Pak Marullah barusan dilantik oleh Ayah Gubernur di Balai Kota 2-3 minggu yang kemarin. Mari kita doakan beliau supaya bisa amanah fatonah sidiq serta tablig dalam bangun Jakarta Selatan. Amin, ” kata Sandi memulai sambutannya.

Sandi lalu bicara masalah bagaimana bangun kerjasama serta peran pemuda Indonesia di masa global. Dia menyampaikan, anak muda mesti ditanamkan ide entrepreneurship serta leadership.

” Suatu kewirausahaan akan membuahkan kepemimpinan yang baik. Bagaimana pemimpin itu lahir karena mereka dapat think outside the box serta lihat dibalik tiap-tiap krisis ada kesempatan serta di tiap-tiap kesusahan ada keringanan, ” katanya.

Sandi lalu menyinggung masalah tahun politik mendekati Pemilihan presiden 2019. Dia menilainya esensi dari demokrasi sekarang ini telah dilupakan.

” Tahun ini serta saat ini makin kerap dimaksud tahun politik. 2017 tuturnya tahun politik, kok 2018 tahun politik juga? 2019 tahun politik lagi. Kok politik selalu kapan kerjanya? Tetapi ini tidak dapat dipisahkan dari kita kalaupun ini demokrasi, ” katanya.

” Saya meyakini kalaupun kita ngikutin sosial media, WA group, kabar berita di tv mainstream yang cuma dibicarakan politik elektoral selalu. Siapa pasangan siapa, partai mana sama partai mana, bagaimana sama-sama menjatuhkan, memecah iris. Esensi dari demokrasi itu dilupakan benar-benar. Walau sebenarnya kalaupun kita lihat survey diumumkan, kita lihat siapa yang pesan survey itu? Kita sudah mengetahui survey itu alat giring pandangan (opini) tetapi jadikan untuk alat pemecah iris. Yang diributkan tetap politik yang berbasiskan elektoral, yang berbasiskan identitasnya, bukan gagasannya, ” sambungnya.

Sandi menilainya sekarang ini belumlah ada yang konsentrasi mengulas bagaimana figur pemimpin yang dapat membawa Indonesia sangat baik ke depan melalui gagasan-gagasannya.

Ditambahkan Sandi, dianya menjadi pemimpin tetap konsentrasi lihat ke depan. Diakuinya kerap turun lihat apa masukan orang-orang. Menurut dia, persoalan warga Jakarta tidak terlepas dari masalah kesejahteraan contohnya lapangan pekerjaan serta naiknya harga sembako seperti telur.

” Sangat baik kita konsentrasi, contohnya harga telur naik apa turun? Naik ya, tembus harga Rp 35 ribu. Alhamdulillah saat ini di Jakarta telah mulai turun Rp 26-27 ribu. Serta ini angkanya telah zone hijau. Di Jakarta kita dapat jual murah. Triknya leadership. Leadership itu tahu apa yang jadi persoalan orang-orang. Its too early too celebrate, tetapi saya optimis Pak Gubernur keperluan kita merupakan seputar 16-17 ton per lokasi, ” katanya.

” Waktu saya dipilih tempo hari, saya secara langsung katakan ke Pak Anies kita mesti yakinkan supply telur di Jakarta. bagaimana triknya? Kita buat kesepakatan yang mengikat periode panjang dengan daeraah penyuplai, Blitar. Pada akhirnya kita tandatangani 200 ribu ton telur untuk ke Jakarta, ” sambung Sandiaga.

Menurut Sandi, bila harga-harga sembako di Jakarta naik yang disalahkan tetap gubernur, bukan pemerintah pusat. Juga demikian dengan sulitnya warga mencari lapangan kerja, yang ditunjuk hidungnya tentu gubernur. Karenanya, diakuinya semenjak awal menjabat bersama dengan Anies telah fokus mengatur masalah lapangan kerja serta sembako.

Sandi lalu kembali menyinggung panasnya Pemilihan presiden 2019. Menurut dia, orang-orang nanti mesti betul-betul pilih pemimpin yang kebijakan ekonominya berpihak pada rakyat.

” Pemilihan presiden 2019 menurut irit saya ini harusnya jadi referendum ekonomi nasional. Siapa memimpin nasional yang dapat merampungkan kebijakan ekonomi yang betul-betul berpihak ke rakyat, ekonomi pancasila, ekonomi Masalah 33. Ada dua camp yang sangat kiri yang sangat kanan yang tidak dapat kita ganti alur pikirnya, karena yang satu tentu pilih yang satu. Tetapi sebagian besar rakyat Indonesia 45 % belumlah menjatuhkan pilihan, ” katanya.