KPAI Menyoroti Puluhan Kekerasan Fisik Pada Anak

KPAI Menyoroti Puluhan Kekerasan Fisik Pada Anak – Memperingati Hari Anak Nasional, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti tetap meriah terjadinya kekerasan pada anak. Terutama, kekerasan verbal serta psikis.

” Kekerasan fisik relatif turun tetapi kekerasan verbal serta psikis tetap kerapkali berlangsung, ” kata Ketua KPAI Susanto, Senin (23/7/2018).

Susanto mengutarakan terdapatnya ciri-ciri yg tidak sama pada mode perkara yg berlangsung di tahun 2018. Dimana dalam sebuah perkara ada beberapa puluh korban kekerasan.

” 1 perkara, korbannya banyak, ucap saja perkara tangerang, 1 perkara korbannya 45, perkara Aceh korbannya 25, perkara Jambi korbannya diramalkan 80-an, ” ujarnya.

Susanto juga menyinggung kekerasan verbal atau perundungan (bullying) terhadap anak dalam satu audisi yg diadakan group warga atau insan penyiaran. Seperti didapati, beberapa waktu terakhir ramai perkara pengusiran peserta audisi menyanyi lantaran persoalan tampilan dalam sesuatu acara tv oleh satu diantaranya juri di acara audisi itu ialah Iis Dahlia.

” Kembangkan kemampuan anak, gali potensi mereka, tetapi dukungan, bangkitkan semangatnya serta jangan sampai patahkan lantaran situasi pribadinya. Bully pada peserta audisi memberikan begitu bully pada anak tetap berlangsung di berapa lini kehidupan, baik dalan keluarga, dunia hiburan, sekolah, populasi bahkan juga kawan sepermainan. Ini gak bisa berlangsung serta mesti di cegah, ” ujar Susanto.

Hari Anak Nasional ini, kata Susanto, mesti berubah menjadi momentum pelajari serta perbaikan. Terutama untuk dunia hiburan.

” Yakinkan anak terfasilitasi sesuai sama usianya serta jangan sampai lemahkan mereka. Dari mana saja serta situasi apa pun anak mesti di-support serta dikuatkan semangatnya, ” jelasnya.

Susanto lantas mengharap seluruhnya pihak buat bersama mengerjakan perlindungan pada anak. Arahnya, buat wujudkan Indonesia yg ramah anak.

” Perlindungan anak mesti menjadi pergerakan berbarengan bukan kerjaan parsial lebih-lebih sektoral. Semestinya gak dibenarkannya. Tanpa pergerakan berbarengan, terasa sukar mengerjakan percepatan buat wujudkan Indonesia ramah anak, ” ujarnya.

” Tidaklah ada argumen untuk siapa-siapa saja tidak untuk perduli pada perlindungan anak. Seluruhnya pihak mesti perduli lantaran sudah mandat negara lewat undang-undang perlindungan anak, ” pungkas Susanto.