Hidup dalam Keterbatasan Fisik Bukan Alasan untuk Menyerah, Seperti Warga di Sulbar Ini

Hidup dalam Keterbatasan Fisik Bukan Alasan untuk Menyerah, Seperti Warga di Sulbar Ini – Hidup dalam terbatasnya fisik bukan fakta untuk menyerah pada hidup. Perihal ini dibuktikan Arya Pangga (40), masyarakat Dusun Rakasang, Desa Riso, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar.

Walaupun menanggung derita kebutaan pada ke-2 matanya, tidak lalu membuat Pangga–sapaanya–hanya berdiam diri di dalam rumah sambil berharap belas kasih masyarakat. Di usianya yang tak akan muda, dianya masih berusaha dengan kerja menjadi penyadap air aren, untuk dibikin gula merah.

Didampingi Isa (31) sang istri terkasih, telah lebih dari 10 tahun lamanya, Arya Pangga yang diketahui sebab kebutaan pada ke-2 matanya, memerankan aktifitasnya menjadi penyadap air aren.

Sehari-hari, bapak dua anak ini mesti berjalan keluar masuk rimba yang berjarak seputar 3 km. dari tempat tinggalnya, mencari pohon aren yang dapat disadap airnya. Kerja menjadi penyadap air aren tentu saja bukan pekerjaan yang gampang, ditambah lagi buat Arya pangga yang ke-2 matanya tidak dapat lihat.

Sering tubuhnya menabrak benda apakah yang tidak diduga ada di dalam jalan yang biasa dilewati. Kakinya mesti waspada waktu mengambil langkah, untuk sekedar rasakan jalan yang dilaluinya, pastikan jika maksudnya telah benar.

Untuk menyadap air aren, Arya Pangga mesti memanjat pohon setinggi belasan mtr.. Satu pohon aren dapat membuahkan 20 sampai 40 liter air, yang di sadap 2x dalam satu hari, pada sore dan pagi.

Sadar akan terbatasnya yang dipunyai, Arya Pangga bukannya tidak mau melalukan pekerjaan lainnya yang lebih aman, akan tetapi apakah daya, banyak masyarakat yang melihat mata sebelah akan kondisinya.

Dikisahkan, jika kebuataan pada ke-2 matanya bukan bawaan lahir, tetapi karena penyakit yang dideritanya saat kecil.

Untuk untuk meningkatkan pemasukan, tidak hanya menyadap air aren, Arya Pangga pun sering menolong masyarakat memetic buah kelapa, yang dipanjat dengan gaji sebesar Rp 5 ribu untuk tiap-tiap pohonnya. Bahkan juga pada musim panen buah langsat seperti saat ini, Arya mengakui sering menolong masyarakat menuai buah langsat, dengan gaji Rp 10 ribu untuk satu peti buah langsat yang dipetiknya.

Dengan keadaan seperti saat ini Arya Pangga mengakui begitu bersukur, sebab Tuhan memberi keunggulan untuk menutupi kekurangan pada dianya.

Arya Pangga pun mengakui tidak berani mendatangi tempat yang baru bila tiada didampingi kerabatnya.