Dituduh membunuh Pedagang Sempolan Divonis Seumur Hidup

Dituduh membunuh Pedagang Sempolan Divonis Seumur Hidup – Seseorang pedagang makanan sempolan, Ahmad Sapuan memiliki rencana ajukan grasi pada Presiden sehabis divonis Mahkamah Agung (MA) dengan vonis seumur hidup berkenaan perkara pembunuhan. Ahmad rasakan dijebak lantaran tidak melaksanakan apa yg dituduhkan.

Oleh hakim Pengadilan Negeri Pati, Ahmad dipandang dapat dibuktikan dengan resmi melanggar Clausal 340 KUHP lantaran melaksanakan pembunahan memiliki rencana saling bersama dengan seseorang pria bernama Supriyadi. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup pada 2014 saat kemarin.

Usaha hukum dikerjakan serta bukanlah mendapatkan kemudahan, Ahmad terus divonis pidana seumur hidup oleh MA melalui ketentuan No. 998 K/PID/2015.

” Saya mau cari keadilan, lantaran tidak rasakan membunuh korban hingga saat ini, ” kata Ahmad waktu didapati di Lapas Kelas 1A Kedungpane Semarang, Kamis (11/7/2019) .

Penduduk Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati itu rasakan dijebak lantaran dikira turut memiliki rencana pembunuhan yg dikerjakan Supriyadi pada korban bernama Muhamad Rizal pada bulan Agustus 2014 lalu di Pati.

Ahmad ceritakan dia serta korban mengenal dengan Supriyadi bermaksud untuk menduplikasi uang. Nyata-nyatanya Supriyadi mendustai kedua-duanya.

” Uang saya berikan Rp 6 juta, serta mengharap digandakan dapat berubah menjadi 10 jt. Si Rizal turut penggandaan uang, si rizal turut menyerahkan Rp 1, 5 juta.

Semula saya yakin pada Supriyadi. Tetapi sehabis uang saya masuk semua serta tidak ada berita, saya tidak yakin pada supriyadi, ” tuturnya.

Singkat kata menurut vs Ahmad, dia pada Agustus 2014 sempat diperintah Supriyadi temani meminta hutang tapi menampik lantaran tengah ada di Jepara.

Esoknya orang tuanya menghubungi ada pembunuhan di Pati serta ia pulang.

” Saya ditelepon bapak saya, tukasnya ada pembunuhan dibakar. Lalu diperintah pulang ke Pati, serta saya pulang ke rumah mertua serta bekerja seperti biasa, ialah jualan sempolan goreng, ” ujarnya.

Lantas dia dihubungi polisi dan ditangkap. Proses hukum bersambung serta menekuni persidangan. Dia rasakan ada yg tidak-sesuai dalam proses hukum perkaranya.

” Di persidangan saya pun tidak kenal saksi, banyak saksi pun tidak kenal saya. Lantas rekonstruksi oleh polisi saya pun tidak dibawa, serta saya pun tidak tahu sistem pembunuhan itu bagaimana, ” ujarnya.

Disamping itu pengacara juga sekaligus Pendiri Rumah Pancasila serta Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera mengakui akan mendukung Ahmad untuk mendapat keadilan. Menurut dia masih ada peluang dengan ajukan grasi.

” Kita akan ajukan permintaan grasi pada presiden. Terkecuali itu pun kita mohon amnesti atau abolisi ke DPR, lantas berubah menjadi alasan grasi di presiden, ” kata Yosep.

” Saya mau keadilan, ” tambah Ahmad.