Biaya Dan Jarak Jadi Kendala Pasha Belum Dapat Sekolah

Biaya Dan Jarak Jadi Kendala Pasha Belum Dapat Sekolah – Mode zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) membuat Muhamat Pasha Pratama (12) tidak dapat Sekolah di SMP negeri yang ada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Waktu ini Pasha belum mendaftarkan SMP lain lantaran terhalang jarak serta ongkos.

datang ke rumah Pasha di RT 05 RW 14, Dusun Bulu, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (11/7/2019) .

Di dalam rumah simpel itu, Pasha kelihatan duduk dengan raut muka sedih dibarengi sang nenek. Bahkan juga dia tak mau bicara banyak.

Pasha bercerita sebelumnya dia mendaftarkan di SMPN 2 Karangmojo sampai pada akhirnya belum dapatkan sekolahan sampai waktu ini. Ia mendaftarkan SMPN 2 Karangmojo lantaran dekat dari rumah, lebih banyak teman-temannya yang mendaftarkan di sekolah itu.

” Daftar disana (SMPN 2 Karangmojo) lantaran dekat dari rumah, serta rekan-rekan saya banyak juga yang pengen sekolah disana, ” tuturnya dengan suara lirih, Kamis (11/7/2019) .

Tapi, waktu pengumuman PPDB nyatanya namanya tidak tertera pada daftar calon siswa yang diterima. Meski sebenarnya, kata Pasha, di antara tempat tinggalnya dengan sekolah itu memiliki jarak 2 km. serta nilai UN punya dia tambah tinggi dibandingkan sejumlah kawan yang lain.

” Serasi saya mencari nama saya di papan pengumuman kok tidak ada, nyatanya saya tidak diterima serta itu rasa-rasanya susah sekali, ” tuturnya.

Muhamat Pasha Pratama. Muhamat Pasha Pratama. Poto : Pradito Rida Pertana/detikcom

” Namun kawan saya yang nilainya lebih rendah serta tempat tinggalnya lebih jauh (dari SMPN 2 Karangmojo) malahan keterima. Itu yang membuat saya sedih, meski sebenarnya nilai (UN) saya tidak demikian jelek adalah 15, 83 serta kawan saya yang nilainya 13 malahan keterima, ” sambung Pasha.

Pasha akui masih mau meneruskan sekolah di kursi SMP. Tapi, hingga waktu ini dia masih tertahan dengan problem transportasi ke sekolah yang jaraknya jauh dari rumah.

” Masih bingung (pengen mendaftarkan ke mana sesudah tidak diterima di SMP negeri) , lantaran (sekolah) yang lain jaraknya jauh-jauh, ” ujarnya.

Nenek Pasha, Rebi (65) menjelaskan, jika dianya sendiri pula belum memastikan dapat mendaftar cucunya ke sekolah lain. Hal demikian lantaran Pasha masih inginkan Sekolah di SMPN 2 Karangmojo.

Lebih, kalau mendaftarkan ke SMP lain jaraknya terlampau jauh dari rumah serta hal demikian jelas perlu ongkos yang banyak. Dan SMP swasta paling dekat memiliki jarak kurang lebih 5 km. dari tempat tinggalnya.

” Tujuannya mendaftarkan disana (SMPN 2 Karangmojo) itu bila pergi ke sekolah supaya dapat nebeng temannya. Lantaran bila (sekolahnya) jauh tidak ada angkutan dari sini (Dusun Bulu) serta bila daftar di (sekolah) swasta terhalang ongkos, ” tangkisnya.

Terbatasnya ekonomi yang menimpa Pasha karena pemasukan kakek serta neneknya yang tidak menentu jadi buruh tani. Diluar itu, sejauh ini Pasha tidak hidup bersama dengan ke-2 orangtuanya.

” Pasha udah saya asuh sejak mulai kelas 3 SD lantaran ibunya wafat waktu kecelakaan di Gading (Kecamatan Playen) , serta ayahnya rada kurang (alami problem jiwa) , ” tangkisnya.

” Terus pemasukan jadi buruh (tani) ya tidak sebagaimana, namun saya inginnya ya ia (Pasha) konsisten Sekolah, ” tambah Rebi.

Menurut dia, kemauan cucunya bersekolah terlalu besar. Hal demikian dibuktikan dengan perabotan sekolah yang udah dibeli Pasha untuk meneruskan sekolah ke tahapan SMP.

” Anaknya itu kemauan mau Sekolah, lantaran sepanjang berlibur kan ia (Pasha) seringkali diminta tolong sama tetangga serta diberi gaji (uang) . Nah, uangnya itu disatukan Pasha untuk beli buku sama tas, ” ujarnya.

” Mungkin itu satu diantara perihal yang membuat Pasha susah, lantaran ia udah beli perabotan sekolah nyatanya malahan tidak diterima di SMP yang dibutuhkannya, ” sambung Rebi.

Tidak cuma Pasha, insiden tidak mengenakkan pula di alami Romi Kurniawan (12) , masyarakat Dusun Bulu, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Karena dia tidak juga diterima di SMPN 2 Karangmojo.

” Saya daftar di SMPN 2 Karangmojo lantaran dekat rumah serta nilai UN saya 18. Serasi daftar nama saya di barisan tengah serta serasi pengumuman mendadak berada di barisan bawah, ” tangkisnya waktu dijumpai detikcom di tempat tinggalnya, Dusun Bulu, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (11/7/2019) .

Romi meneruskan, dia rasakan sedih lantaran tidak sukses bersekolah di SMPN 2 Karangmojo.

” Tidak diterima ya rasa-rasanya sedih, ditambah lagi empat orang kawan saya yang tempat tinggalnya lebih jauh dari rumah saya malahan keterima (di SMPN 2 Karangmojo) , serta nilainya dibawah saya, ” tuturnya.

Namun, Romi tidak berlarut-larut dalam rasa sedih serta dia udah mendaftarkan di satu diantara sekolah swasta di Kecamatan Wonosari. Hal demikian dikerjakan biar dia konsisten dapat meneruskan sekolah ke tahapan setelah itu.

” Namun ya kepinginnya konsisten Sekolah di SMPN 2 Karangmojo lantaran banyak rekan-rekan yang sekolah disana (SMPN 2 Karangmojo) , ” ujarnya.

Diwawancarai terpisah, Kepala Sektor SMP Dinas Pendidikan, Pemuda serta Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, Kisworo menjelaskan, jika Pasha tidak diterima di SMP negeri lantaran tidak penuhi satu diantara variabel PPDB online. Menurut dia, insiden itu bukan pertama kali berlangsung.

” Variabel yang dimanfaatkan (PPDB online SMP) memang yang pertama jarak, yang ke-2 umur serta ke-tiga yaitu (waktu) waktu pendaftaran. Nah itu, ia (Pasha) kalahnya di umur, ” tangkisnya waktu dihubungi wartawan, Kamis (11/7/2019) .

” Terus udah kita cek pula, serta jaraknya kalah, mempunyai arti ada yang lebih dekat (jarak dari rumah dengan SMPN 2 Karangmojo tidak cuman Pasha) . Toh, bila sama dekatnya ia kalah di umur yang terpaut tiga hari, ” sambung Kisworo.

Kisworo mengatakan, batasan umur pendaftar PPDB SMP tidak kurang dari 15 tahun. Tapi, kalau rata-rata umur pendaftar yaitu 12 tahun atau 12 tahun lebih 1 hari karena itu automatis Pasha terlempar dari posisinya.

” Dan untuk NEM (nilai UN) memang dilewatkan cuma karena untuk pelengkap administrasi saja, ” kata Kisworo.